Sunday, June 26, 2016

Deadline dan Mahasiswa

Saat gue nulis tulisan ini, gue sedang dihadapkan dengan deadline penulisan skripsi, dalam waktu dekat gue harus ketemu dengan dosen pembimbing untuk menyerahkan progress penulisan gue. Hmm… yeah, i am a deadliner  
Spoiler for Pusing sama deadline
The Power of Deadline
Pusing sama deadline (sumber rumahtips.com)

Rehat sejenak dari mantengin microsoft word, gue iseng nulis tulisan ini, tulisan yang mungkin bisa jadi ilmu baru buat kalian semua, tak hanya untuk para mahasiswa, tp juga untuk kalian yg udah kerja.

Sesuai dengan judul, tulisan ini mengenai waktu, atau lebih tepatnya deadline. Kasus yang gue pake adalah deadline tugas kuliah dan penulisan skripsi.. 

Quote:Mungkin untuk sebagian mahasiswa, mereka bisa mempunyai banyak waktu luang untuk mengerjakan skripsi, tapi ada juga yang tidak memiliki banyak waktu luang, contohnya gue, gue adalah seorang Maharja (Mahasiswa yang Bekerja). Buat temen-temen yang senasib, kalian pasti pernah ngerasain susahnya ngebagi waktunya antara kerja dan kuliah. 

Sekarang gue udah di semester-semester akhir, dan mata kuliah yang gue ambil cuman skripsi, jadi gue bisa kerja dari pagi sampe sore. Malem bisa ngerjain skripsi? 
Alamaaak, cape kali lah, bawaannya pengen tidur aja, hahahaha. Rasanya males banget ngerjain skripsi.

Spoiler for Cerita dimulai
Sampai suatu ketika, datanglah chat dari dosen pembimbing, “Tanggal XX bab 3 dan 4 kamu udah harus kelar ya”

“Dug dug.. dug dug..” jantung tiba-tiba bedegup kencang.
Sambil menarik napas, perlahan gue melihat kalender yang berada di atas meja.

Oh… may… gat!!!  

Napes gue langsung kembang kempis, “4 hari lagi cooooyy.. mana banyak yang belom, gimana ini?” Teriak gue didalam hati.

Walau hati teriris, gue bales chat ke dosen pembimbing dengan kalimat singkat “Oke pak” diakhiri dengan emoji jempol. #AkuKuat #AkuRapopo  

The Power of Deadline
Aku rapopo (sumber citizen6.liputan6.com)

Spoiler for Intermezzo
Waktu pengerjaan skripsi sebenernya lama, cuman ya itu.. sadarnya pas negara api udah menyerang, dan mahasiswa cuman bisa pasrah ngeliat desanya dihancurkan *oke oke skip* 

Quote:Namanya mahasiswa yak (walau ga semua mahasiswa), saat dikasih tugas sama dosen malah seperti ini:

“Tugas dikumpulin 3 hari lagi, dikirim ke email saya” seru Pak Dosen

Dengan serempak mahasiswa langsung bilang “Yah Pak sebentar banget, tugasnya kan susah”

“Yaudah dikumpulkannya Minggu depan” jawab Pak Dosen

Spoiler for Let's Party
The Power of Deadline
HOREEEEE ~~~ (sumber theodysseyonline.com)

Quote:Waktu udah dikasih lebih panjang, tapi adaaa aja mahasiswa yang ngerjain H-1, malemnya begadang demi tugas, lalu update status “ya ampun tugas nya susah banget”  
Lalu mahasiswa yang rajin akan ketawa didalam hati “hahahaha lagian kemana aja looo, bukannya dikerjain dari kemaren”

Spoiler for Student syndrome
The Power of Deadline
Student syndrome (sumber rspective.com)

Mau nyalahin waktu?
Ampun deh.. mending fokus ngerjain tugas aja, dari pada ngulang disemester depan, ngeri lah..

Lalu, apakah hasil pekerjaan si ngaret lebih jelek dari pada si rajin?
Hmm… ga juga ya, dari yang gue perhatiin, kadang “last minutes man” hasilnya ga jelek-jelek banget, ga kalah lah sama si rajin.

Kenapa bisa begitu? 
Menurut gue karena si ngaret bener-bener fokus ngerjain tugasnya.  

Quote:“Coy, si A jadian loh sama si B”

“Eh, gue pinjem hp lo dong”

“Woooow, gue dapet voucher belanja nih, liat deh!”

Segala gangguan diatas, akan dijawab oleh para deadliner dengan kalimat pamungkas “Aduuuh bentar yak, gue lagi ngerjain tugas nih, soalnya besok deadline”

Spoiler for Creative process
The Power of Deadline
Creative process (sumber jborden.com)

Tak ada yang bisa menganggu para deadliner saat sedang dikejar deadline. Seolah-olah sebuah deadline adalah bahan bakar untuk bisa fokus dengan apa yang dikerjakan.

Spoiler for Deadline
The Power of Deadline
Deadline (sumber codepolitan.com)


Quote:Balik lagi soal skripsi, hal diatas juga terjadi sama gue. Saat hari biasa gue selalu tergoda untuk mengecek sosmed, tapi karna deadline, gue bisa bener-bener fokus bersama skripsi ku tercinta  

Jadi ada deadline itu bagus dong?
Hmmm.. menurut gue deadline itu bisa jadi pedang bermata dua, bisa bagus, tapi bisa juga ga bagus. Tergantung dari deadline itu sendiri. Kalo dibuat dengan waktu yang masih ‘memungkinkan’, deadline malah bisa jadi bahan bakar yang baik. Tapi kalo kita terus-terusan dihadapkan dengan deadline yang ‘ga mungkin’, bisa aja kita jadi setres lalu depresi.. #FullOfSadness #TryNotToCry #CryALot  

Spoiler for Meme
The Power of Deadline
Meme try not to cry (sumber imgur.com)

Quote:Ada yang namanya Parkinson’s Law (ini bukan penyakitnya Muhammad Ali yak), Parkinson’s Law lahir dari ‘essay’ yang dibuat oleh C. Northcote Parkinson di buku Parkinson’s Law: The Pursuit of Progress (London, John Murray, 1958). Hukum ini yang berbunyi:

Quote:“Work expands so as to fill the time available for its completion”
Dalam bahasa indonesia kira-kira begini, “Suatu tugas akan membengkak (dalam persepsi) untuk mengisi waktu yang tersedia untuk penyelesaiannya”

Spoiler for Parkinson's Law
The Power of Deadline
Parkinson’s law (sumber thepmbox.com)

Maksudnya apa sih?  
Jadi semakin banyak waktu yang kita punya, maka semakin kecil effort (usaha) yang kita butuhkan.
Dan semakin sedikit waktu yang kita punya, maka semakin banyak effort yang kita butuhkan.

Spoiler for Contoh
Contoh dari Parkinson's Law ini adalah, bila kita mengalokasikan waktu seminggu untuk tugas yang bisa diselesaikan dalam waktu 1 hari, maka tugas tersebut akan meningkat dalam hal kerumitan dan menjadi lebih berat agar dapat “mengisi” waktu seminggu itu.

Contoh lainnya, bila kita hanya memiliki satu kegiatan dalam satu hari, maka bisa dipastikan, kita hanya berhasil menyelesaikan satu kegiatan itu saja. kita bakalan bekerja bagaikan siput karena berpikir bahwa target kita cuman satu saja di hari itu.

Masih bingung? mau contoh lainnya?  
Jadi gini.. kalau kita dikasih tugas yang sebenernya bisa diselesaikan dengan waktu 24 jam, tapi kita diberikan waktu satu minggu. maka tugas itu baru akan selesai setelah hari ketujuh. Kalau diberikan waktu dua bulan, maka selama itu juga tugas tersebut baru akan selesai.
Paham?

Quote:
Untuk menyiasati agar kita ga jadi “last minutes man”, buatlah deadline sendiri, majukan deadline dari waktu yang sudah ditentukan. Jadi kalau deadline sebenarnya 1 minggu, maka kita buat menjadi 3 hari. Lebih cepat lebih baik kan, toh sebenernya dengan waktu 3 hari aja kita udah bisa selesaiin.

Itulah yang dilakukan oleh dosen pembimbing gue, sebenarnya deadline soft cover dari kampus masih sekitar 3 minggu lagi, tapi biar ga keteteran pas dimenit-menit terakhir, makannya dosen gue memajukan deadlinenya.
Thanks Pak, saya sekarang bener-bener paham The Power of Deadline 

The Power of Deadline


Oke sekian dari gue, gue udah mau kembali ke microsoft word, kasian skripsi gue udah meraung-raung minta ditulis lagi, hahahaha..
Tulisan ini gue juga post di blog gue. Buat yang suka ama tulisan ini, bisa bantu  dan share. Kalo mau share pengalaman mengenai deadline, bisa juga tinggalin jejak disini 

Sumber

Spoiler for Referensi
Referensi:
- andaka.com/hukum-parkinson-dalam-manajemen-waktu.php
- en.wikipedia.org/wiki/Parkinson’s_law
- charleschristian.wordpress.com/2008/07/02/deadliner-dan-parkinsons-law
- wiryasaputra.blogspot.com/2009/05/parkinsons-law.html

KENAPA BANYAK SARJANA PENDIDIKAN GAK MAU JADI GURU

Agan-sista pasti memiliki saudara atau teman bergelar Sarjana yang lulus dari jurusan pendidikan. Sebagian dari mereka mungkin bekerja sebagai guru, tapi pasti ada juga yang bekerja di bidang selain pendidikan. Agan-sista pasti pernah bertanya kepada mereka yang bekerja di luar jalur pendidikan itu, “Kok gak ngajar?” atau “Kenapa milih kerjaan lain? Kenapa gak jadi guru aja?”

Atau mungkin agan-sista termasuk insan bergelar S.Pd. yang bekerja di luar dunia pendidikan dan sempat merasa pusing menghadapi pertanyaan-pertanyaan tadi.

Emang kenapa sih, banyak sarjana pendidikan gak mau jadi guru?

Quote:1. Gajinya Kecil
Spoiler for Gajinya Kecil
KENAPA BANYAK SARJANA PENDIDIKAN GAK MAU JADI GURUGuru emang pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi, bukan berarti guru gak butuh uang. Agan-sista yang pernah ngajar sebagai guru honorer pasti tahulah berapa gaji guru honorer. Banyak lulusan S1 Pendidikan yang ingin menjadi guru PNS tapi proses melewati tahapan honorernya itu loh, horor! Horor pendapatannya Sebenarnya bisa saja mengajar di institusi pendidikan lain selain sekolah negeri. Misalnya, di bimbel, tempat kursus, atau sekolah swasta. Tapi, mengingat jumlah sarjana pendidikan banyak, persaingannya ketat, loh. Malah, kadang ada juga sarjana lulusan non-pendidikan ikut seleksi untuk menjadi staf guru di institusi-institusi tersebut. Jadi, daripada rebutan profesi guru, akhirnya agan-sista memilih profesi lain.


Quote:2. Tidak Sesuai Passion
Spoiler for Tidak Sesuai Passion
KENAPA BANYAK SARJANA PENDIDIKAN GAK MAU JADI GURUMau dibayar semahal apapun, jika agan-sista bekerja pada bidang yang tidak menjadi passion kalian, pasti pekerjaan pun jadi terasa lebih berat. Begitu pula para sarjana pendidikan yang menolak menjadi guru. It’s just simply not their passion. “Lah, terus, kalo bukan passion-nya, kenapa dulu kuliah ngambil jurusan pendidikan?” Simak poin selanjutnya, gan-sist 


Quote:3. Dulu Memilih Jurusan Pendidikan Karena Terpengaruh Keluarga/Teman
Spoiler for Memilih Jurusan Pendidikan Terpengaruh Keluarga/Teman
KENAPA BANYAK SARJANA PENDIDIKAN GAK MAU JADI GURUEntah pengaruh yang bersifat soft seperti bujukan dan rayuan disertai argumentasi, ataupun yang bersifat kasar seperti pemaksaan, pasti ada yang mengalami hal ini. Jadi, sebenarnya, ketika kelas XII SMA dulu agan-sista sudah memiliki pilihan selain jurusan pendidikan. Tapi, kemudian pihak keluarga/teman sepik-sepik atau memaksa hingga akhirnya agan-sista terjerumus  masuk jurusan pendidikan.


Quote:4. Mendapat Beasiswa di Jurusan Pendidikan
Spoiler for Mendapat Beasiswa di Jurusan Pendidikan
KENAPA BANYAK SARJANA PENDIDIKAN GAK MAU JADI GURUMungkin dulu agan-sista apply untuk beberapa beasiswa. Pokoknya, setiap ada info beasiswa dan bisa memenuhi persyaratannya, agan-sista langsung apply. Tapi, entah bagaimana, satu-satunya beasiswa yang agan-sista berhasil dapatkan adalah di jurusan pendidikan. Daripada mendaftar ke jurusan lain yang agan-sista impikan tapi tidak mendapat beasiswa, akhirnya jurusan pendidikan pun dihajar saja, meskipun tidak yakin akan menyukai bidang tersebut. Akibatnya, ketika lulus dan memasuki dunia kerja, agan-sista akan memilih profesi di luar bidang pendidikan.


Quote:5. Tidak Menyukai Lingkungan ‘Pendidikan’
Spoiler for Tidak Menyukai Lingkungan 'Pendidikan'
KENAPA BANYAK SARJANA PENDIDIKAN GAK MAU JADI GURUMungkin sebenarnya menjadi guru adalah cita-cita agan-sista sejak dulu hingga akhirnya memilih jurusan pendidikan. Namun, ketika menjalani praktek kerja/magang, agan-sista mendapati kenyataan bahwa dunia pendidikan tidak seindah yang orang-orang kira. Banyak kecurangan, pelanggaran aturan, ketidakadilan terjadi di sekolah tempat agan-sista magang. Pokoknya agan-sista mengetahui semua borok dunia pendidikan yang menjijikkan. Akibatnya, agan-sista memutuskan untuk tidak bekerja di lingkungan pendidikan setelah lulus kuliah.


Quote:6. Tidak Suka Anak Kecil
Spoiler for Tidak Suka Anak Kecil
KENAPA BANYAK SARJANA PENDIDIKAN GAK MAU JADI GURUNah, ini biasanya dialami agan-agan. Sista-sista juga ada sih, tapi lebih sedikit jumlahnya Mungkin sebenarnya agan-agan menyukai dunia pendidikan, tapi ketika harus menghadapi siswa-siswa SD, badai pun datang. Namanya juga anak kecil. Ada masalah kecil dengan temannya atau jatuh terpeleset, langsung nangis meraung-raung dengan nada falset yang lebih melengking dari Adam Levine. Bikin kuping agan serasa dijejelin buah duren  Diberi tugas kelompok, malah bermain sekelompok  Yah, pokoknya anak kecil memang kadang bertingkah luar biasa, perlu kesabaran ekstra untuk menghadapinya. Akhirnya, daripada harus berhadapan dengan monster-monster kecil itu, agan-sista pun lebih memilih pekerjaan lain yang ‘aman’.


Quote:7.Terlalu ‘Bandel’ untuk Menjadi Guru
Spoiler for Terlalu 'Bandel' untuk Menjadi Guru
KENAPA BANYAK SARJANA PENDIDIKAN GAK MAU JADI GURUAgan-sista merasa bahwa kepribadian kalian terlalu rebel untuk menjadi seorang guru Padahal, seorang guru selalu dituntut untuk bisa menjadi panutan bagi siswa-siswanya. Melihat banyaknya peraturan yang harus ditaati, rasanya jadi enggan berkecimpung di dunia pendidikan. Tidak boleh berambut gondrong, tidak boleh memakai pakaian seksi (emangnya guru versi JAV  ), tidak boleh memakai kuteks warna-warni, tidak boleh mengecat rambut, dan seabrek peraturan lainnya. Daripada agan-sista terpaksa menjadi pribadi yang fake, akhirnya memilih profesi selain guru saja.


Quote:8. Kurang Menantang
Spoiler for Kurang Menantang
KENAPA BANYAK SARJANA PENDIDIKAN GAK MAU JADI GURUBagi agan-sista yang menyukai tantangan dan kejutan, profesi sebagai guru mungkin kurang menantang. Bukan berarti menjadi guru itu pekerjaan mudah loh ya. Hanya saja, pekerjaan di bidang pendidikan itu mungkin cenderung terasa ‘aman’. Agan-sista sudah tahu pola pekerjaannya akan seperti apa, gajinya berapa, apa yang dihadapi, masalah apa yang kira-kira muncul dan bagaimana solusinya. 
Banyak sarjana pendidikan memilih bekerja di luar bidang pendidikan karena lebih menantang; misalnya karena pola pekerjaannya tidak mudah ditebak, tantangannya berganti-ganti, persaingannya lebih ketat, lokasi pekerjaannya berpindah-pindah, atau jabatannya bisa berganti sesuai perkembangan karir. Bagi agan-sista yang mudah bosan, pekerjaan demikian lebih menyenangkan daripada profesi guru.


Quote:9. Terlanjur Mendapat Pekerjaan di Bidang Lain
Spoiler for Terlanjur Mendapat Pekerjaan di Bidang Lain
KENAPA BANYAK SARJANA PENDIDIKAN GAK MAU JADI GURUDi dalam hati, agan-sista mungkin bercita-cita menjadi guru. Tapi, ketika baru lulus dan mencoba melamar ke sana-sini, rupanya agan-sista diterima di sebuah perusahaan yang sama sekali tidak berurusan dengan pendidikan. Didukung lingkungan kerja yang nyaman dan gaji yang besar, jadilah agan-sista melupakan profesi guru yang dulu sempat dicita-citakan.


Nah, begitulah kira-kira alasan para sarjana pendidikan menolak menjadi guru berdasarkan versi ane. Buat agan-sista yang bergelar S.Pd tapi tidak menjadi guru, bener gak tuh? Kalo ada alasan yang kurang, silakan tambahkan di komen. Nanti ane gusur ke sini komennya 

Segitu dulu aja ya thread-nya  Terima kasih buat agan & sista yang udah menyempatkan baca, rate, dan komen thread ane. Buat yang mau sedekah cendol juga, ane menerima kok. 

  See you on my next thread..  



UPDATED
Tambahan dari agan
Quote:Karena jurusan Pendidikan itu emang biasanya termasuk yang biayanya ringan dibanding jurusan-jurusan lain.. dan karena dulunya berharap lulus dari universitas negeri jurusan pendidikan bisa mudah diterima bekerja sebagai guru PNS.. kenyataannyaaa ternyata mengecewakan.. 
Quote:Original Posted By jawamotorsport 
Satu lagi gan....

Kuliah di unversitas negeri bekas IKIP itu biayanya lebih murah daripada kuliah di universitas negeri yang umum.
Iya bener gan, jadi guru itu ya harus PNS kalo gak PNS ya gak usah jadi guru deh, dan proses untuk jadi PNS itu ya banyak saingan, nyogok sana-sini. Yaudah cari kerjaan lain aja yg gajinya lebih manusiawi bisa buat makan sebulan.
Dan sayangnya lulusan dari universitas negeri bekas IKIP dengan gelar S.Pd. meskipun itu lulusan teknik tidak bisa diterima kerja di BUMN sekelas Pertamina, PLN, Telkom, Pelindo dll. Karena BUMN lebih memilih gelar S.T. gan meskipun sesama lulusan teknik tapi gelar S.Pd tidak diakui. Tapi kalo misal mau masuk kerja di perusahaan swasta bisa, temen2 ane banyak yang kerja di perusahaan swasta daripada ngajar, alasan utamanya ya faktor gaji sama kayak ane gaji yg ane dapat di perusahaan swasta sebulan + lemburan jauh lebih manusiawi daripada ane jadi guru. Ane ini lulusan teknik mesin dari universitas negeri yg gelarnya S.Pd.

Ane juga sempet mikir, ngapain coba universitas negeri bekas IKIP ini keluarin gelar sarjana pendidikan yg jika lulusannya tidak semua jadi guru? Padahal dulu ane sempet mengira kalo setelah ane lulus kuliah gelar S.Pd. ini ane bakalan berpeluang besar buat jadi PNS, dalam bayangan ane lulus kuliah langsung jadi guru PNS dan ditempatin dimana saja gitu, ternyata itu cuma mimpi aja.... Toh temen2 seangkatan ane yg bersedia dikirim ke pelosok indonesia sampai sekarang belum juga jadi PNS, alias masih honorer, padahal ane lulus wisuda dari tahun 2011 lho... Untungnya ane gak ikutin jejak temen2 ane yg jd honorer dan ane lebih pilih kerja di perusahaan swasta, coba kalo misal ane sampai sekarang jadi guru honorer di pelosok indonesia dg gaji kecil yg gak manusiawi ya selain rugi umur dan buang2 waktu, ane gak bisa kesampaian beli mobil dan rumah di usia muda dong.... Selain itu, ane gak bisa dapet istri cantik dong... Susah lah jaman sekarang cari istri cantik yg bisa nerima gaji guru honorer yg kecil...

Sekali lagi buat ane, jadi guru itu ya harus PNS kalo gak bisa jadi PNS ya gak usah jadi guru aja deh...

Sumber Refrensi

Nikmatnya Hidup Di Desa (Yuk Kembali Ke Desa)

Assalamu'alaikum

Sahabat Kirby dimanapun berada, tiap hari kita menghadapi rutinitas kehidupan. Dan mayoritas pasti sahabat tinggal di kota. Kota yang selama ini selalu menjadi tujuan setiap orang. Kota yang penuh dengan gemerlap keramaian dan kemodernan. Tinggal di kota menjadi impian banyak orang karena di kota apapun serba ada.

Quote:Nikmatnya Hidup Di Desa (Yuk Kembali Ke Desa)

Bagi Kirby, tinggal di sebuah desa jauh lebih menarik daripada hidup di kota. Kirby akan jelaskan alasannya di bawah.












Quote:1. Suasana Yang Tenang
Quote:Nikmatnya Hidup Di Desa (Yuk Kembali Ke Desa)
Di desa sahabat tidak akan menjumpai kemacetan atau keramaian kendaraan dan manusia. Suasana di desa sungguh menenangkan. Mungkin hanya sesekali saja kita mendengat suara kendaraan bermotor. Suara angin sepoi dan hewan serangga dapat kita dengar di desa.











Quote:2. Lingkungan Yang Bersih dan Alami
Quote:Nikmatnya Hidup Di Desa (Yuk Kembali Ke Desa)
Bosan menghisap udara yang terkena polusi kendaraan bermotor atau pabrik? Maka sahabat tinggalah di desa. Udaranya begitu segar dan sejuk. Air disana juga masih jernih dan terjaga. Sungguh nikmat.











Quote:3. Hubungan Kekeluargaan Yang Tinggi
Quote:Nikmatnya Hidup Di Desa (Yuk Kembali Ke Desa)
Tidak seperti di kota dimana orang-orangnya sibuk sendiri-sendiri dan banyak yang acuh terhadap orang lain. Di desa warganya ramah-ramah. Satu sama lainnya saling membantu. Jika ada yang kesusahan pasti tetangga pada datang membantu. Rasa kekeluargaan ini sungguh sesuatu yang jarang kita jumpai di kota.











Quote:4. Menikmati Hasil Tanam Sendiri
Quote:Nikmatnya Hidup Di Desa (Yuk Kembali Ke Desa)
Jika di kota kita hidup dengan cara serga membeli, maka di desa tidak demikian. Kita dapat menanam sayur-mayur, buah-buahan sendiri. Tentu hasilnya dapat kita nikmati sendiri selain untuk kita jual. Apa yang kita makan, kita tau asal muasalnya. Kita juga dapat beternak hewan untuk dikonsumsi sendiri dan dijual. Hidup kita bakal lebih sehat.











Quote:KESIMPULAN
Quote:Nikmatnya Hidup Di Desa (Yuk Kembali Ke Desa)
Jadi kesimpulannya menurut Kirby, yuk mari kita wujudkan gerakan kembali ke desa. Bagi sahabat yang sudah tinggal didesa, jangan tinggalkan desamu sahabat. Bangunlah desamu. Jauh lebih nyaman dan nikmat tinggal di desa.
    

Sumber Refrensi

Manfaat & Peran PMS Bagi Suatu Perusahaan

Hola gan, bre, sist, nes, dan ho.. Apa kabar semuanya.. Semoga baik-baik aja ya.. To d'point aja ya gan. Tadi malam ane ngebuat trit ten...